Disclaimer

  1. Segala Informasi dan data dibuat sebaik mungkin namun tidak menjamin 100% keakuratannya.
  2. Semua Artikel/Materi yang dihadirkan Investasu bertujuan hanya untuk edukasi atau referensi.
  3. Investasu tidak menghimpun dana, tidak mengajak ataupun mengharuskan untuk berinvestasi. Investasi adalah beresiko, segala keputusan dan kerugian adalah tanggung jawab Anda (pengunjung/pembaca).
  4. Tidak menjamin kualitas ataupun kredibilitas atas link ke luar (pihak ketiga) berupa iklan berbayar, broker review, dsb.

Rant:

Saya tuh tipe orang yang gampang banget down dan merasa bodoh ketika melihat orang lain yang lebih pintar daripada saya. Saya berlindung di balik alasan cemen kaya gini untuk menjustifikasi jarangnya saya nulis di Investasu.

Kebiasaan jelek saya yang suka loncat-loncat membuat saya punya setidaknya 3 akun Twitter, tapi bukan akun RP. Katakanlah akun brand/blog yang dulu-dulu dan sekarang. Ketiganya pun punya list follower-following yang beda-beda dan tentu saja gak bisa dijadiin satu.

Karena blog saya yang “tersisa” ya Investasu ini, jadilah di waktu luang saya mengusahakan untuk belajar tentang uang dan investasi. Cara belajarnya juga dengan scroll timeline akun-akun Twitter yang sering cuit tentang hal tersebut. Dari satu akun, saya nemu akun-akun lainnya yang juga gak kalah menarik. Gitu terus. Selain menarik, juga (kelihatannya) jago banget ngomongin investasi dan duit. Inferioritas saya pun kambuh.

“Ngapain saya repot-repot nulis kalo orang-orang lebih memilih baca thread Twitter dari orang yang jago-jago tadi? Kalo saya nulis di Twitter pun, personal brand akun saya tai banget karena yang saya tweet juga cuman tai alias shitposting.”

Jadilah lingkaran setan tai kucing ini jalan terus.

Kepengen nulis – cari bahan dan belajar – lho kok pada jago – minder – down – gak jadi nulis.

Gitu terus.

Tapi

Gak tau darimana, saya nemu semacam celah. Ini kan yang jago udah ambil peran. Influence yang mereka bagi kan ya biasanya ajakan untuk berinvestasi.

Nah

Karena Investasu namanya juga udah negatif, kenapa gak sekalian aja gitu kali ya? Investasu jadi villain-nya aja gitu?

Yang jahat-jahat. Bahas yang jelek-jelek. Pil pahitnya. Salah satunya ya bahas soal risiko investasi.

Jadi villain memang terlalu berat buat saya yang punya mental kayak keripik kaca ini. Tapi saya mau coba dulu. Setidaknya harus siap kalau diframing sebagai sobat penyebar fearmongering.

😫

Karena itulah saya buat rant ini sebagai disclaimer. Ok? Ok.

12 Juli 2020