Investasi apa ya enaknya saat wabah virus Corona begini?

Pagi ini, Jumat, 13 Maret 2020. Pertama kalinya saya mengalami secara langsung saat bursa efek dihentikan sementara (trading-halt) karena turunnya IHSG tau-tau 5% aja. Masih kiyep-kiyep baru bangun tidur setelah begadang nonton drakor. Mata langsung melek.

Investor maupun trader saham memang sedang diuji mentalnya. Mulai banyak yang stres. Memang kalau saham ini harus pakai uang dingin biar gak sakit-sakit amat pas terjun bebas gini.

Rekan saya ada yang sibuk update di Instagram Story: “Walah, bakal makan nasi kecap dan kerupuk sampai kapan ini?”

Ada startup keuangan independen dan influencer yang koar-koar kalau justru ini saatnya beli. Saatnya borong emiten, karena lagi diskon besar dan cuci gudang. Kalau udah begini pasti sukanya bawa-bawa quote terkenalnya Warren Buffett yang:

Ya gak salah.

Terserah mau ngikut siapa. Pokoknya pesan asu:

Kalo bisa, jangan buat keputusan pas lagi panik.

Saya pun iseng ngobrol sama satu financial planner. Sok-sokan sambat kalau minus porto sudah bikin sakit kepala dan harus ke dokter minta obat.

Sama masnya disarankan buat cut loss dulu biar gak kepikiran.

Trus cash nya dibuat invest dibeliin minyak, katanya. Hold dua bulan, katanya.

Saya mah iya-iya aja, tapi tentu saja gak dilakuin hehehe. Tapi tetep disimak saja insight yang diberikan oleh orang-orang yang sudah lebih lama malang melintang di saham dan yang *harusnya* literasi finansialnya ratusan kali lebih kece dari saya.

Saya juga baru baca tadi kalau prediksi puncak penyebaran virus Corona di Indonesia itu sekitaran bulan Ramadan nanti. Hmm, apakah gak usah aji mumpung jualan takjil dulu untuk tahun ini?

Sementara ini, saya manut ini dulu deh:

Sambil belajar lagi dan coba beberapa pilihan menaruh uang dingin dalam jangka pendek.

Saat ini, saya sedang mendalami salah satu platform fintech P2P lending. Meski konotasi P2P lending udah banyak bergeser ke arah negatif (dan ini juga yang bikin saya maju mundur belum nyobain sampe baru-baru ini doang), menurut saya ini lumayan buat jangka di bawah satu tahun. Meski… high risk? Ulasannya menyusul.

(Alternatif dengan risiko lebih rendah bisa ke obligasi-nya pemerintah. Entahlah, saya gak dapet feelingnya kalo cash gak begitu banyak tapi diinvestasikan di deposito. Bagaimana dengan reksa dana? Hmm… ini juga lebih ke preferensi pribadi sih)

Mau ditaruh di mana kekayaan saya yang sedikit ini?

Kalau Anda membaca sampai ke titik ini, baguslah. Karena saya mau menambahkan sekaligus update (17/03/20). Sumber dari pakar yang diwawancarai Jawa Pos. Banyak pakar (dan orang biasa) meyakini bahwa di saat jeblok seperti ini, jenis investasi yang paling aman adalah investasi emas. Di saat yang lain anjlok atau turun bebas, emas malah cenderung naik. Tentu saja, kalau Anda sedang #DiRumahSaja, Anda tetap bisa berinvestasi emas kok secara online.

Kesimpulannya, hal-hal yang bisa dilakukan pas lagi krisis/ada pandemi seperti Corona udah saya bold di atas ya.

Keputusan terakhir tentu tetap di tangan Anda.

Kalau mau nambahin ya silakan banget loh.

Semoga kita semua kuat menghadapi ini, meski berdarah-darah. This too, shall pass.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *