P2P Lending di tengah pandemi Corona, apakah bunuh diri?

Kurang lebih 10 hari setelah saya mulai asyik mencoba-coba platform P2P lending dan mencari yang mana yang terbaik bagi saya, secara tidak sengaja saya baca komentar di salah satu Instagram finance blogger yang kurang lebih bilang kalo baru terjun atau invest ke instrumen investasi alternatif yang namanya P2P lending ini adalah langkah bunuh diri.

Argumennya adalah, ini sekarang lagi masa susah dan anjlok, apa iya yang minjem duit tuh bisa balikin duitnya tepat waktu? Kalo gak bisa, kena default atau gagal bayar, tau rasa lo.

Jht 😢

Yang ngasih komentar juga notabene yang udah malang melintang lebih lama daripada saya. Jujur, pernyataan ybs sempat mengganggu psikologis saya dan jadi kepikiran untuk segera exit dan gak melakukan investasi ulang (reinvest) jika nanti tenor telah berakhir. Namun, pada akhirnya, hal tersebut berlangsung tidak sampai 24 jam. Saya udah bulat untuk lanjut di P2P lending untuk saat ini.

Kenapa saya masih memilih P2P lending di saat seperti ini?

Alasan 1: Platform P2P lending belum/tidak terdampak

Sejauh ini (hingga tulisan ini terbit), sedikit banyak saya juga rajin membuka dashboard app maupun website sebagian platform P2P lending. Hasilnya, fintech-fintech P2P tempat saya berinvestasi ada yang bodo amat, dan ada yang melakukan perubahan minor pada layanan atau produk mereka.

Contoh yang tidak melakukan perubahan: Investree, Tanigrow, Danalaut.

Contoh yang melakukan perubahan minor: Asetku (menghilangkan produk dengan tenor panjang alias maksimal yang tersedia hanya 3 bulan; kecuali Flexible Funding), Koinworks (tenor maksimal 5 bulan, grade pinjaman D dan E ditiadakan, memberlakukan skema relaksasi).

Contoh yang melakukan perubahan mayor: Mekar (berhenti menggalang dana), Cashwagon (menurunkan bunga menjadi 5%), Uangme (menurunkan bunga).

Alasan 2: Masih wait and see untuk average down di saham

Kondisi saya sedang tidak bagus-bagus amat untuk melakukan trading (di samping itu, belum jago juga). Kalau mau average down, juga masih belum yakin apakah udah masuk bottom atau belum. Di beberapa webinar memang sudah disebutkan kalau kondisi market sudah mulai price in dan cukup oke untuk masuk pasar. Namun, keputusan terakhir kan tetap di tangan saya, hehe. Ada plan untuk mengalokasikan sebagian dana setelah exit di P2P lending, tapi belum final.

Alasan 3: TKB90 dan tenor

Saat ini saya hanya mengalokasikan dana di P2P lending yang:

  1. TKB90 nya di atas 99% hingga 100%
  2. Tenor pendek, maksimal 1 bulan
  3. Dana pokok-nya diasuransikan.

Alasan 4: The New Normal

Setelah pemerintah mengeluarkan statement untuk berdamai dengan virus Corona, sejauh ini masyarakat (dan investor) terlihat semakin bodo amat dan sudah melewati panik. Kabarnya juga sedang digodok protokol-protokol yang pada akhirnya aktivitas seperti biasa akan dilakukan kembali. Artinya, banyak orang (terutama yang menjadi borrower) akan kembali mendapatkan pemasukan atau bekerja.

Oke deh. Tapi masih takut nih buat invest…

Apabila anggaran terbatas, masih sama seperti yang dituliskan di Investasi apa ya enaknya saat wabah virus Corona begini?, tidak usah melakukan apa-apa alias diam saja sampai situasi membaik.

Apabila ada anggaran tapi takut risiko (profil risiko rendah), bisa belanja obligasi negara di pasar sekunder (yang harganya lagi jatuh).

Apabila ada anggaran tapi ogah P2P lending, nganu, belanja saham aja dan average down portfolio.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *