P2P Lending Riba? Haram?

Disclaimer:

  • Investasu tidak memiliki dasar yang baik di bidang hukum, agama, dan hukum agama.
  • Investasu tidak memiliki wewenang untuk memberikan fatwa haram/halal terhadap hal tertentu.
  • Tulisan ini dibuat berdasarkan kurasi dari narasumber.
  • Tulisan ini hanya bersifat sebagai referensi.

Berawal dari pola yang saya dapat pada reply section selebtwit yang memperkenalkan peer-to-peer lending (P2PL) sebagai instrumen investasi, nih. Pola-nya, selalu ada saja warganet yang bilang kurang lebih seperti ini:

  • Pinjol kan riba.
  • Haram ih.
  • Ngajak-ngajak kok jadi lintah darat. Gak berkah lu.

Apa benar begitu adanya? Apa yang membuat warganet ini begitu yakin memberikan label riba, bahkan haram pada P2PL? Saya sendiri sampai sekarang juga gak berani ngasih label, tapi ya itu gara-gara ilmu saya masih cetek.

Singkat cerita, setelah baca dan menyimak diskusi sana-sini, intinya saya belum nemu jawaban pasti buat judul tulisan ini. Referensi saya adalah mengenai hukum syariat Islam yang mengatur jual beli. Ada juga yang mengaitkannya dengan saham, tapi kan yang lagi dibahas di sini itu P2PL. Akhirnya nemu buat yang P2PL, namun dari perspektif jika kita adalah peminjam (borrower) sedangkan yang mau saya bahas di sini itu kalau dari sisi pemberi pinjaman (lender) itu gimana.

Kemudian saya sok-sokan menyimpulkan:

Tidak apa-apa (mubah) kalau kita mau jadi pemberi pinjaman online di platform P2PL selama perjanjian awalnya (akad) jelas. Gimana tuh?

P2P Lending Syariah

Prinsip utama pinjaman online syariah adalah bebas riba, gharar, maisir, dan menghindari israf (boros). Dibentuklah juga Dewan Syariah yang bertugas mengawasi segala bentuk transaksi yang terjadi di dalam perjalanannya.

Beberapa fintech P2PL berbasis syariah, kok. Ini contohnya:

  • Investree
  • Ammana
  • Dana Syariah

Apakah fintech P2PL syariah di atas amanah? Recommended? Jawabannya, gak tau. Saya belum nyoba soalnya, hehe. Nanti deh.

Selain fintech P2PL yang mengklaim sesuai syariat Islam, sebenarnya P2PL konvensional juga bisa jadi sesuai syariat kok, tapi ya gak tau lagi (Ya Allah saya terombang-ambing banget, ketahuan kalau tidak menguasai bidangnya hahahaha). P2PL yang kita sebagai lender bakal mendanai bisnis cenderung lebih ‘tentram’ daripada yang kita sebagai lender mendanai keperluan konsumtif individu. Karena yaa emang balik lagi, perjanjiannya di awal lebih jelas.

Ngawang banget ya? Gharar. Tidak yakin. Tidak pasti. Bukankah satu hal yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian itu sendiri?

Ke depannya, tulisan ini bakal saya update sampai kadar ngawangnya semakin berkurang.

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ

Narasumber:

  • Ustadz Muhammad Syamsudin, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur
  • Guru ngajinya mas DR di Instagram (random banget???)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *